Mengganti Indra Sjafri dari Timnas Indonesia U-19

Sepakbolagol.com, Berita Sepakbola – Ini menjadi akhir penampilan gemilang Timnas Indonesia U-19 racikan Indra Sjafri setelah PSSI resmi menyatakan tak memperpanjang kontrak pelatih 54 tahun tersebut.

Mungkin kita tak akan pernah melihat permainan cantik timnas Indonesia. Tapi kita perlu mencoba ikhlas dalam hal ini. Mungkin memang ini sudah menjadi jalan kehidupan Indra Sjafri.

Seperti yang kita ketahui bahwa Indra Sjafri setidaknya telah mampu membangunkan harapan kita terkait masa depan sepakbola Indonesia. Selama menjadi pelatih tim Garuda Muda, ia kerap menelurkan pemain muda fenomenal.

Pada tahun 2013, ketika Indonesia U-19 menjuarai Piala AFF U-18, Indra Sjafri mengenalkan pada kita pemain seperti Evan Dimas. Mula-mula pemain asal Surabaya tersebut menjadi perbincangan karena tekniknya yang baik dalam mengolah bola. Ia memiliki umpan-umpan akurat dan sentuhan pertama yang mengesankan. Ia juga kerap memberikan umpan-umpan cerdas pada rekannya. Intinya, permainan indah bisa kita rasakan dari tim besutan Indra Sjafri ini.

Masalah yang terjadi dalam tubuh PSSI sempat membuat Indra kehilangan posisinya sebagai pelatih timnas U-19. Namun akhirnya, ia mendapatkan kembali posisinya tersebut pada tahun 2017 ini. Tapi sayang kontraknya sangat pendek, hanya sampai bulan Desember.

Seperti sebelumnya, ketika Timnas U-19 hadir bersama Indra Sjafri, harapan terkait masa depan sepakbola Indonesia kembali lahir. Indra Sjafri kembali menyita perhatian masyarakat Indonesia ketika mengorbitkan nama Egy Maulana Vikri.

Pemain bernomor punggung 10 tersebut sungguh mengesankan. Punya nomor punggung yang sama dengan Lionel Messi, dengan perbandingan yang asal-asalan, gaya permainan anak dari Medan itu banyak yang menyebutnya hampir sama dengan sang mega bintang dunia dari Argentina tersebut. Tapi terbukti memang Egy bisa menjadi top skor di ajang Piala AFF U-18 yang berlangsung di Myanmar kemarin.

Selain dua nama tersebut di atas, masih banyak pemain yang merupakan –bisa katakan—pemain ‘penemuan’ Indra Sjafri. Sebut saja nama-nama seperti Muhamad Rafli Mursalin top skor Liga Santri Nasional atau Muhammad Luthfi Kamal seorang gelandang tangguh yang sekarang sudah masuk Timnas U-23.

Berbicara soal prestasi, Indra Sjafri adalah satu-satunya pelatih yang mampu membawa Indonesia meraih gelar juara di dalam kompetisi besar di Asia Tenggara. Setelah Indonesia puasa gelar selama puluhan tahun, Indra akhirnya mampu membawa Indonesia menjuarai Piala AFF U-18 pada 2013 kemarin.

Sayang sekali Indra gagal membawa Timnas Indonesia U-19 menjadi juara Piala AFF U-18 pada edisi yang terbaru 2017. Sementara itu PSSI menargetkan Indra bisa membawa Timnas U-19 menjadi juara ketika mengangkatnya sebagai pelatih. Ia kemudian gagal, maka ia pun tak mendapat kontrak baru ketika kontraknya habis pada bulan Desember mendatang.

Filosofi Indra Sjafri

Hilanganya Indra Sjafri dari Timnas U-19, sekali lagi, memang patut kita sayangkan. Sebab Indra adalah pelatih yang sebenarnya memiliki filosofi kuat dalam melatih. Kelebihan lain Indra sebagai pelatih Timnas Indonesia adalah, bahwa ia orang lokal. Hal itu bisa menjadi keunggulan karena artinya memiliki kultur sama dengan para anak asuhnya: kultur sepakbola Indonesia.

Indra Sjafri sering menerapkan formasi 4-3-3 dalam permainannya. Pilihan ini ia anggap sebagai skema yang paling cocok dengan formasi untuk pemain Indonesia—berdasarkan catatannya dari khazanah sepakbola Indonesia. Ia menyebut formasi tersebut memang yang paling cocok dengan kultur sepakbola Indonesia.

Ia mengatakan bahwa permainan sepakbola di berbagai pelosok Indonesia menggunakan formasi 4-3-3 sehingga stok pemain untuk formasi tersebut melimpah. Lalu pemain yang ia bawa ke dalam timnya pun sudah fasih dengan skema tersebut.

“Saya tahu persis apa yang dilakukan sepakbola-sepakbola di daerah. Di daerah itu, kalau tidak ada kiri luar dan kanan luar, orang nggak jadi main bola. Selalu dia 4-3-3. Nah berarti ‘kan sumber pemain 4-3-3 itu banyak. Kenapa kita latah mengubah menjadi 4-2-2 dan lain-lain?” terang Indra dalam sebuah wawancara dengan BBC.

Dengan formasi pakemnya tersebut, Indonesia U-19 terbukti bisa bermain indah. Mereka bermain dengan umpan-umpan pendek yang dipadukan dengan kecepatan. Umpan-umpan silang sering merepotkan lawan dan menghasilkan gol indah. Umpan panjang pun tidak terlupakan.

Indra Sjafri menyebut permainan tim besutannya bukan gaya tiki-taka ala sepakbola tim Spanyol. Ia menyebutnya Pe-Pe-Pa (pendek-pendek-panjang). Jika dibandingkan dengan gaya bermain Timnas Senior, tentu saja tim muda besutan Indra Sjafri ini lebih tertata dan lebih indah.

Kemudian Indra percaya bahwa sepakbola Indonesia sebenarnya tak kalah dengan sepakbola luar negeri. Tak kalah kualitasnya kepunyaan Indonesia ini. Keyakinan seperti ini ia terus pupukkan di benak anak asuhnya. Ia menyadari bahwa bangsa Indonesia ini kerap dilanda perasaan inferior jika melihat kualitas bangsa lain. Lalu ia mencoba menghilangkan pikiran yang bisa menghambat seperti itu.

Dan satu lagi, yang tak kalah penting dari anak asuh Indra Sjafri adalah sisi moralitas yang mendapat perhatian besar. Indra tak segan memarahi anak asuhnya ketika mereka melakukan kesalahan. Coach Indra bisa menjadi bapak yang memperhatikan pendidikan karakter anak-anaknya. Namun ia juga bisa menjadi sahabat di dalam tim besutannya tersebut. Di kesempatan lain, ia juga bisa menjadi diktator yang semua instruksinya harus dituruti.

Itulah pemaparan sedikit soal wajah Timnas U-19 berada di bawah kontrol Indra Sjafri. Maka oleh sebab itu, sangat disayangkan ketika ia akan meninggalkan kursi pelatih tim muda Indonesia.

Timnas Indonesia U-19 pasca Indra Sjafri

Namun tentu saja Indra bukan segalanya, tak perlu mati-matian demi mempertahankannya. Sebab di bawah pelatih lain, Timnas Indonesia U-19 justru bisa jadi lebih baik. Tentang hal ini, sejarah yang akan membuktikan. Oleh karena itu, PSSI diharapkan bisa mencari pelatih yang lebih baik dari Indra. Nantinya, masyarakat akan cepat memberikan penilaian jika pengganti Indra Sjafri tidak lebih baik.

Kabar baiknya, selepas melepas jabatannya sebagai pelatih U-19, Indra disebut masih akan ikut berkecimpung dalam upaya mengembangkan sepakbola Indonesia. Menurut Sekretaris Jenderal PSSI, Ratu Tisha, Indra Sjafri akan bergerak di bidang pencarian bakat pemain di bawah naungan federasi sepakbola tertinggi di Indonesia tersebut. Ia juga akan mendapat pendidikan dalam bidang ini.

Dalam proyek ini, ke depannya, Indonesia diharapkan bisa menghasilkan para pemain berkualitas dari berbagai pelosok Indonesia. Para pemain yang berkualitas ini nantinya yang akan mengisi skuat timnas. Adapun yang akan dikerjakan Indra adalah memantau para pemain potensial di daerah-daerah.

“Pekerjaan ini bukan menuntut saya berada di belakang layar karena saya sadar betul bahwa passion saya melatih. Saya akan kembali membentuk Timnas Indonesia U-19 yang baru. Saya akan mempersiapkan kembali satu tim untuk bisa dipersiapkan hingga 2034,” kata Indra menyambut pekerjaan barunya.

Dan akhirnya, semoga Indra Sjafri menikmati pekerjaan barunya ini. Lalu Timnas Indonesia akan lebih berkualitas dan berprestasi ke depannya. Maka jika demikian, kita semua pasti akan merasakan ikhlas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *